Senin, 12 November 2012

Ibu Disiplin vs Ibu Kejam

Sering mendengar istilah Kejamnya Ibu Kota, Kejamnya Ibu Tiri? Bagaimana kejamnya Ibu Kandung? Atau mungkin pernah melihat adegan Ibu sedang menjewer anaknya yang nakal, dan membuat si anak histeris dan meraung tak mau diam? Ini bukan kutipan novel, namun inilah realita yang sering kita temui sehari-hari. Ibu yang seharusnya menjadi sosok lembut dan dapat membuat anak selalu merasa aman, seringkali malah menjadi sosok yang mengerikan. Anak saya pernah cerita seperti ini: “Nana memanggil mamanya kepiting, karena mamanya suka sekali mencubit dia kalau dia nakal. Kasian Nana tangannya suka merah-merah dicubit mamanya.” Sebenarnya tidak salah untuk mendisiplinkan anak. Ketegasan memang diperlukan agar anak tau batasan yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan, namun perlukah menjadi ibu yang ‘kejam’? Dan sejauh mana seorang Ibu harus ‘kejam’ dalam mendisiplinkan anaknya? Saya teringat saat saya menunggu anak saya keluar dari sekolah, ada sekumpulan anak yang usianya tidak jauh dengan anak saya sedang bermain di tanah.

Tak lama salah satu Ibu anak tersebut datang dan membentak anaknya dengan kasar: “Aduh Ade, berapa kali mama bilang jangan main kotor-kotoran. Susah cuci bajunya!” sambil menarik anaknya dengan kasar.  Sedih sekali menyaksikan kejadian tersebut. Kadang memang sebagai Ibu kita pasti kesal apabila anak kita terus mengulang kesalahan yang sama, namun satu hal yang saya pelajari dari Ibu saya, saat mendisiplinkan anak jangan pernah menggunakan kata-kata yang dapat menyakiti atau mengecilkan anak Anda, apalagi dengan kata-kata kasar dan kotor, karena anak akan mengingat setiap kata yang kita ucapkan.

Tidak mau kan anak Anda tiba-tiba mengucapkan kata-kata kasar ke orang lain? Kalaupun kita merasa perlu memukul atau mencubit sang anak agar tidak kembali melakukan hal yang sudah kita larang, jangan menggunakan alat apalagi yang dapat melukainya. Apabila kita menggunakan tangan (tanpa alat), kita bisa mengukur seberapa keras pukulan atau cubitan kita, sehingga kita tidak akan menyakiti anak kita. Perlu dingat juga bahwa untuk mendisiplinkan anak atau agar terlihat tegas, Anda tidak harus menjadi sosok yang kejam.

Anda boleh saja memarahi anak, mendisiplinkannya dengan cara Anda, bahkan mengkoreksi mereka dengan cubitan ringan, namun jangan menganiayanya dengan kejam. Jangan melampiaskan kekesalan seharian Anda kepada anak. Saat anak melakukan kesalahan yang sebenarnya masih dapat ditolerir, jangan terlalu membesar-besarkannya. Kita pernah menjadi anak kecil juga kan, jadi Pernah bandel, pernah melawan, pernah ingin mencoba semua hal yang dilarang orang tua kita, tapi apa orang tua kita menganiaya kita? Seharusnya tidak. Saya belajar dari salah seorang sepupu saya. Keponakan saya yang berusia 4 tahun sangat aktif. Setiap kali dia main ke rumah, dia akan melompat-lompat di kasur, bersama anak saya sambil bernyanyi. Buat saya itu bukanlah suatu masalah, namun Mamanya selalu mengingatkan bahwa itu tidak baik, karena dapat merusak kasur saya.

Suatu kali, saat dia sedang asik melompat dikasur dan bernyanyi riang dengan anak saya, mamanya masuk. Tanpa perlu mengeluarkan ‘sosok garang’, mata melotot ataupun kata-kata keras, keponakan saya itu langsung spontan tidak berani melompat dan memeluk mamanya. Dia langsung meminta maaf karena dia tau mamanya tidak suka dengan apa yang dia lakukan. Benar-benar mengagumkan menyaksikan hal tersebut. Jadi, untuk mendisiplinkan anak, tegas memang diperlukan namun Anda perlu tau batasan dan manfaatnya untuk anak.

Kalau selama ini Anda sudah menjadi sosok Ibu yang ‘mengerikan’ tapi tidak juga bisa mendisiplinkan anak (bahkan anak menjadi pemberontak), mungkin Anda perlu menggunakan pendekatan dan cara lainnya dalam mendisiplinkan si buah hati. Ingat, disiplin tidak harus selalu kejam dan kejam tidak selalu dapat mendisiplinkan anak.- Iin.

5 komentar: