Tenang ibu-ibu, persaingan diantara saudara kandung memang wajar terjadi, tetapi ada cara untuk mengatasinya sehingga persaingan yang ada bisa menjadi persaingan yang sehat dan bisa saling membangun.
Ada baiknya kita melihat penyebab terjadinya persaingan diantara saudara sekandung, dimana seharusnya saudara sekandung saling mengasihi hingga maut memisahkan (seperti janji pernikahan kita saja ya). Pada kenyataannya yang terjadi justru sebaliknya, si Kakak bisa menganggap si Adik sebagai saingan. Kok bisa?
Mari kita lihat situasinya dari sudut pandang si Kakak. Apakah Anda tahu perasaan si Kakak ketika Anda membawa pulang si Adik dari rumah sakit? "Si Kakak pasti senang karena ada teman main jadi dia tidak sendirian lagi". Ternyata Anda salah, Anda hanya berasumsi demikian. Pada kenyataannya si Kakak menganggap si Adik mungil kecil yang masih merah itu adalah sumber masalah untuk dirinya. Coba Anda bayangkan, sebelum si Adik lahir Anda hanya memeluk si Kakak, meninabobokan si Kakak, mengelus kepala si Kakak, Anda dan Suami mengganden kedua tangan si Kakak pada saat berjalan-jalan. Setelah si Adik hadir apa yang terjadi? Si Kakak akan sering ditegur, "Jangan berisik, adik lagi tidur". "Jangan taruh mainan sembarangan, adik sedang belajar berjalan, adik bisa jatuh". "Lihat adikmu begitu menurut dan pintar. Kamu jangan banyak bergerak, capek melihatnya". Tahukah Anda perasaan si Kakak merasa terasing, terbuang dan ditolak. Dia merasa gara-gara si Adik maka Papa Mama tidak sayang kepada aku lagi.
Pada bulan Oktober kemarin saya mengikuti seminar Parenting yang diadakan oleh pihak sekolah anak-anak saya. Sang pembicara adalah seorang mantan kepala sekolah swasta di daerah Serpong. Beliau memberikan perumpamaan yang membuat hati saya dan suami terkejut dan kami baru memahami perasaan sang Kakak secara tepat. Beliau berkata, pada saat si Adik dibawa pulang dari rumah sakit maka perasaan si Kakak akan sama seperti disaat suami Anda membawa pulang istri baru dan suami Anda berkata bahwa Anda harus menyayangi, memperhatikan dan memperlakukan si istri baru sama seperti suami Anda memperlakukan, menyayangi dan memperhatikan istri barunya. Apakah Anda bisa menerima hal tersebut? Saya menjawab sejujurnya, saya TIDAK BISA. Saya memiliki 3 anak dengan jarak usia yang dekat. Saya baru memahami hal ini disaat putri sulung kami berusia 6 tahun. Dan itu membuat hati saya teramat sedih karena saya telah melukai hati putri sulung kami.
Putri sulung kami cenderung iri kepada adiknya, dia merasa kami orangtua nya tidak menyayangi dia sama besar dengan adik-adiknya. Seringkali itu terucap dan itu menyakitkan untuk kami mengetahui putri sulung kami terluka oleh kami. Iri hati adalah awal dari persaingan saudara kandung, kita sebagai orangtua harus mengarahkan anak-anak untuk saling mendukung dengan cara memberikan kesempatan kepada si Kakak untuk mengambil bagian dalam mengurus dan membesarkan si Adik, sehingga si Kakak tidak merasa menjadi 'outsider', si Kakak akan merasa dibutuhkan oleh orangtuanya dan si Adik. Si Kakak dan si Adik adalah anugerah dari Tuhan yang sangat berharga, tugas kita sebagai orangtua untuk membekali mereka dengan kebaikan, kelemahlembutan dan kemurahan hati sebagai modal utama dalam kehidupan ini. - Abigail Halim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar